Warga
Sukolilo, Pati, Jawa Tengah mengadukan kekerasan yang mereka alami
karena menolak pembangunan PT Semen Gresik di wilayahnya, di kantor
Kontras di Jl. Borobudur, Jakarta Pusat, Jumat (30/1).
Warga
Sukolilo diwakili oleh 6 orang yang datang ke Jakarta diantaranya
Rasmi, Sundarsih, Sumini, Suati, Sunarti, Tasripah. Mereka merasa kasus
PT Semen Gresik tidak berpihak pada rakyat kecil. Sundarsih,
salah satu wanita yang menjadi korban kekerasan PT Semen Gresik mengaku
adanya intimidasi dalam kasus Semen Gresik. ”Kami hanya rakyat kecil,
kenapa malah dianiyaya oleh kepolisian,” ungkapnya. Sundarsih
sempat menangis ketika menceritakan peristiwa penganiayaan yang
dialaminya. Dia menuturkan, pada tanggal 22 januari lalu, pihak Semen
Gresik mendatangi Desa Sukolilo untuk mengusir warga yang berada
disekitar wilayah Sukolilo yang rencananya akan dibuat pembangunan PT
Semen Gresik. Namun warga yang menolak pembangunan tersebut mencoba
menghadang aparat yang mencoba mengusir warga. “Kami
menghadang mereka bukan untuk menghalangi aparat, tetapi kami hanya
ingin kepastian dari lurah Sukolilo bagaimana nasib kami jika sumber
air yang selama ini jadi mata pencaharian kami di ubah menjadi lautan
semen? Kami menolak pembangunan PT Semen Gresik,” cetusnya. Dikhawatirkan
dengan pembangunan PT Semen Gresik tersebut, mata pencaharian warga
Sukolilo akan menghilang dan sumber mata pencaharian warga pun akan
terganti akibat Pembangunan PT Semen Gresik. ”Kami hanya petani yang bekerja diladang, sawah, hutan yang bergantung pada sumber mata air di Desa kami,” ungkap Sudarsih.
|