Sebagian
alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) mempertanyakan rencana
pemberian gelar doktor honoris causa (HC) kepada Jenderal (Purn) Susilo
Bambang Yudhoyono (SBY) dari Senat Guru Besar ITB dalam Dies Natalis
pada 2 Maret 2009 karena tidak ada sumbangan keilmuan yang diberikan
oleh Presiden RI itu.
Seperti
dilansir kantor berita Antara, mantan mahasiswa dan aktivis ITB,
Fadjroel Rahman menyatakan pemberian gelar menimbulkan cacat politik
pada independensi ITB karena publik akan melihatnya sebagai bentuk
dukungan kampus terhadap calon presiden mendatang. "Saya
menolak sekeras-kerasnya pemberian gelar doktor honoris causa ini. Apa
kaitan SBY dengan keilmuan di ITB sehingga bisa mendapatkan gelar
terhormat itu?" kata Fadjroel di Bandung, Jumat (30/1). Ia
mengatakan seseorang seharusnya bisa mendapatkan gelar itu karena
keilmuannya namun gelar yang dimiliki SBY sama sekali tidak ada
kaitannya dengan seluruh keilmuan yang ada di ITB. "Sepertinya
ada seseorang atau sekelompok orang yang sengaja mengaitkan jurusan
keilmuan yang ada di ITB dengan SBY sehingga keputusan ini muncul,"
ujarnya. Ia
menuturkan Ir Sukarno mendapatkan doktor honoris causa dari ITB karena
sumbangan keilmuan teknik sipilnya, terlebih latar belakangnya memang
teknik sipil ITB, sedangkan Hamka memperoleh doktor honoris causas dari
Al Azhar Mesir karena memang ia ilmu agama. "Kasat mata saja tak ada kaitan keilmuan di ITB dengan `ilmunya` SBY dan ini hanya petualangan politik saja," ujar Fadjroel. Mantan
alumni ITB lainnya, Adamsyah Wahab menyayangkan pemberian gelar doktor
honoris causa kepada Yudhyono dan mensinyalir ada keinginan tertentu
dari sejumlah pejabat ITB. "Apa
ada hubungannya keilmuan yang dimiliki SBY dengan ITB dan jawabannya
tentu saja tidak karena ilmu pemberantasan korupsi tidak ada di kampus
kami," katanya. Adam
menangkap ada rumor yang beredar di seputar isu itu yang menyebutkan
pemberian gelar ini dilakukan hanya karena ada keinginan dari petinggi
ITB untuk menjadi menteri jika Yudhoyono terpilih kembali. "Kami
sangat kecewa dengan keputusan ini, terlebih mendekati masa Pemilu 2009
sehingga kentara sekali pemberian ini bernuansa politis," katanya. Alumni
ITB lainnya, Aris Ariyanto mengaku terkejut mendengar kabar itu, "Jika
memang yang menjadi pertimbangan adalah dia menjabat sebagai presiden,
prestasi mana yang membuat menjadi pantas." "Kalau prestasinya hanya menurunkan harga BBM apakah memang itu yang menjadi pertimbangan," katanya. Ketiga
alumni ITB dari angkatan yang berbeda tersebut meminta agar Senat Guru
Besar membatalkan keputusan tersebut karena dinilai cacat politik dan
cacat keilmuan bagi nama besar ITB sehingga akan merusak nama baik ITB. Adamsyah
yang duduk di kepengurusan Ikatan Alumni ITB bahkan berencana membuat
petisi menyangkut rencana pemberian gelar doktor honoris causa kepada
Yudhoyono ini.
|