Jakarta - Akibat percaya diri yang berlebihan, ekonomi Indonesia akhirnya mengalami hard landing
(mendarat dengan benturan).
“Pertumbuhan ekonomi 2009 kemungkinan akan
merosot dari 6 % di tahun 2008 menjadi 3,5 % di tahun 2009,” ujar
Hendri ketika ditemui di acara Econit Ekonomi Outlook 2009 yang
berlangsung di ballroom hotel Mulia, Jakarta selatan.
Jika
kenaikan tingkat bunga dan pengetatan likuiditas berlanjut maka tidak
mungkin ekonomi Indonesia mengalami crash seperti 10 tahun yang lalu,
hal ini disebabkan krisis ekonomi global yang berkepanjangan. Hal
ini mengakibatkan gelembung-gelembung financial kian membesar, yang tak
kala menjadi rentan terhadap gejolak ekonomi dunia. “Buat apa melakukan
inflasi secara langsung, kecuali ada infrastruktur yang mendukung untuk
jangka panjang,” kata Rizal Ramli saat menghadiri Econit Ekonomi
Outlook 2009. Disinggung
mengenai kinerja pemerintahan SBY-JK, Rizal menilai bahwa pemerintahan
ini telah gagal dalam menanggulangi krisis ekonomi global karena lebih
mengutamakan sektor finansial dibandingkan sektor real. Kebijakan
stimulus yang di lakukan oleh beberapa Negara maju nampak sering
dikaitkan dengan kewajiaban untuk menggunakan produk dalam negeri.
Sehingga proteksionisme terhadap negara-negara berkembang mengakibatkan
negra tersebut menjadi melemah, sama seperti yang dialami oleh bangsa
Indonesia saat ini. Dapat
diketahui ada 4 motor pertumbuhan ekonomi, 3 diantaranya ekspor,
investasi, dan konsumsi swasta yang mengalami pengkerutan ekonomi
Indonesia yang cukup besar di tahun 2009. pengkerutan ekonomi Indonesia
yang cukup besar saat ini diakibatkan sulitnya mempertahankan tingkat
konsumsi, aliran modal yang keluar dan penurunan harga komoditi produk
tambang. “Dari
segi daya beli kita ketahui tahun 2008 sudah terpangkas, yakni pada
tahun 2007 inflasi mencapai 11,3 %, sedangkan pada tahun 2008 inflasi
mencapai 16,5 %,” ungkap Hendri.
|