|
 | |  |
| Main » 2009 » Februari » 5 » Cinta Andi Padam di Guantanamo
Cinta Andi Padam di Guantanamo | 11:25 AM |
Andi orang Jawa asli, jebolan pesantren, fasih
berbahasa Arab dan Inggris, selain tentu saja Indonesia dan bahasa Ibu.
Sifat pemalu tak membuat kharismanya pudar di mata kaum Hawa.
Barangkali
ini penggambaran cukup pas tentang pemuda tersebut, yang dikisahkan
penulis Qaris Tajudin dalam novel berjudul Mahasati, terbitan AKOER,
Mei 2007.
Penjara Guantanamo yang baru-baru ini resmi ditutup
oleh Presiden terpilih Barack Husein Obama, setelah sempat dihidupkan
kembali ketika Administrasi Washington menetapkan perang global melawan
terorisme, secara manis ditempatkan sebagai tempat paling akhir dari
perjalanan hifup Andi, dalam format penuturan interogasi pesakitan.
Tali asmaranya dengan teman masa kecil, Larasati, terjalin kembali
setelah pertemuan mereka di udik, saat menghadiri pemakaman seorang
sahabat.
Duduk bersimpuh di samping pusara Joko menjadi awal cerita Mahasati.
Larasati adalah cinta mati Andi. Kendati wanita pelaku industri model dan fashion itu sempat terjerat "monyet beristri" dan dikarunia seorang putri tanpa pengakuan.
Ke-tomboy-an Sati, panggilan yang lebih disukai Larasati, merupakan
kendala tersendiri yang membuat Andi kecut hati untuk berterus terang
kepada orang tuanya yang santri.
Tapi, ketakutan itu justru yang membuatnya menyesal seumur hidup, dan
membawa dirinya memasuki perantauan hingga ke Afghanistan.
Kisah Andi dalam Mahasati disusun secara seling-seling. Bab ganjil
menuturkan kisah perjalanannya, sementara bab genap merupakan rekaman
interogasi terhadap dirinya oleh Letnan Lucy Wong, seorang tentara AS
keturunan China yang diyakini mampu membuat Andi membuka mulut karena
kedekatan ras Asia.
Mereka yang tidak terbiasa memecah konsentrasi disarankan untuk terlebih dahulu membaca habis bab-bab yang ganjil.
Buku Mahasati bersampul warna hitam, di tengahnya diberi gambar dua
lengan dengan tangan sedang mengepal dan terikat kain merah.
Dari sisi ini, Qaris Tajudin tampaknya ingin memberi kesan agar pembaca
memahami Andi sebagai sosok yang terperangkap cinta dan rasa berdosa,
ketimbang jalan hidupnya yang membuat ia disangka salah seorang antek
Usamah bin Ladin atau penguasa Taliban.
Meski bayangan Sati, yang tewas akibat OD obat penanang saat dihimpit
kegalauan lantaran putrinya direbut sang bapak biologis, tak mampu
dienyahkannya, Andi sempat hampir jatuh dalam pelukan mahasiswi
berdarah Yahudi, anak soerang rekanan gembong mafia Sisilia. Ia
kemudian juga nekad menikahi putri kepala rombongan masyarakat nomaden
di Afghanistan.
Namun, seperti ramalan seorang wanita tua cenayang di Regusa, Andi tak berlama-lama menikmati sisi indah dalam kehidupannya.
Lewat secangkir kopi, cenayang itu menyatakan Andi adalah Manlio, pria
gagah yang selalu mengarungi lautan cinta tanpa pernah bisa berlabuh.
"Alasan Kebencian"
Keputusan AS menghidupkan
kembali Penjara Guantanamo untu`k menahan orang-orang yang diduga
pelaku atau terlibat kegiatan terorsime banyak dikecam pihak-pihak pro
HAM.
Dalam kisah Andi, penulis mengungkap sedikit tentang kondisi penjara
tersebut, termasuk sejumlah cara penyiksaan yang dilakukan untuk
mengorek keterangan dari para tahanan.
Dalam babak interogasi terhadap Andi, digambarkan bahwa penguasa
penjara hanya ingin mendapatkan jawaban dari pertanyaan tunggal,
"Mengapa Anda dan kelompok Anda begitu membenci kami, bangsa Amerika?"
Andi, yang akhirnya mau berbicara, justru balik bertanya, mengapa
Amerika Serikat tidak mau berpikir tentang alasan para pembencinya?
Terlibatkah Andi dalam perang AS melawan Terorisme?
Jawabannya ada dalam kisah pemuda tersebut, yang ditulis setebal 390
halaman, tidak termasuk bagian pengantar dan catatan kaki.
Lebih dari itu, Mahasati cukup banyak memberi informasi tentang
kehidupan masyarakat di Tunisia, Regusa, Pakistan, dan Afghanistan,
paling tidak di tempat-tempat yang disinggahi Andi dalam perantauannya,
sebelum terhenti di Guantanamo akibat pneumonia berat.(*)
|
|
Category: Review |
Views: 317 |
Added by: newstribune
|
| |
 | |  |
|
|