Kamis, 13-Aug-2026, 2:56 PM



Welcome Guest | RSS
[ Main ] [ Registration ] [ Login ]
Site menu

News topics
Dalam Negeri
Luar Negeri
Ekonomi dan Bisnis
Olahraga
Entertainment
Serba-Serbi
Review
Sains dan Teknologi

Contreng 2009


Dana Kampanye Caleg Naik 10 Kali Lipat


Pelanggaran Pemilu PKS di Blora Disidangkan

Gus Dur: Afirmatif Bagi Perempuan Tak Akan Jalan

Partai Hanura Periksa Ulang DCT

PBR Usulkan Pemilu di NTT 8 April

Indeks

Main » 2009 » Februari » 7 » Keamanan Aceh Dan Pemantau Asing Pada Pemilu 2009
Keamanan Aceh Dan Pemantau Asing Pada Pemilu 2009
8:18 AM

* Oleh Toni P.

Perkembangan kontemporer di Aceh sekarang ini diwarnai dengan semakin carut marutnya situasi dan kondisi Kamtibmas di Provinsi yang menerapkan syariat Islam ini, sebab setidaknya ada beberapa kasus yang sangat memilukan hati dan martabat manusia terjadi di daerah yang pernah mengalami konflik selama 30 tahun lebih ini.

Peristiwa-peristiwa "tragis" itu antara lain pemerkosaan terhadap salah seorang anak mantan anggota front anti separatis di Bener Meriah setelah pulang mengaji, penembakan terhadap M Nur (anggota KPA Sagoe Lampanah) di Kajhu Aceh Besar, penembakan terhadap Dedi Novandi alias Abu Karim (Sekretaris Partai Aceh Kabupaten Bireuen) yang tewas di TKP ketika hendak memarkirkan mobilnya dirumahnya, adalah contoh-contoh mulai maraknya aksi teror dan vandalisme politik di Aceh menjelang Pemilu 2009, sehingga menuntut jajaran aparat Polda NAD kerja keras untuk mengungkapkan aktor intelektualnya.

Sementara itu, kejadian-kejadian kriminal lainnya seperti pelemparan granat ke kantor partai politik lokal dan partai politik nasional, perusakan baliho ataupun atribut serta bendera partai, aksi-aksi grafiti merusak alat peraga lawan politiknya sudah tidak dapat dihitung jumlahnya, karena hampir setiap hari terjadi di Aceh. Keberadaan Panwaslu dan KIP seakan-akan dibuat mandul, apalagi belum semua Kecamatan ada Panwaslihnya.

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika sejumlah NGO mengadakan jumpa pers tanggal 6 Februari 2009 di Kantor Kontras Aceh, Jl. Mujur No. 98 A Desa Lamlagang, Banda Aceh, yang dihadiri antara lain perwakilan NGO antara lain LBH Banda Aceh, Koalisi NGO HAM, Gerak, AJMI, ACSTF, Aceh Institute, Lakaspia, Imparsial menyikapi kondisi keamanan terkini di Aceh dengan tema “Gubernur dan Polisi Segera Ambil Alih Kendali Keamanan di Aceh” yang dihadiri oleh Faisal Hadi (Koalisi NGO HAM), Askhalani (Gerak Aceh), Aryos Nivada (ACSTF), Hendra fadli (Kontras Aceh), Hospinovizal Sabri (LBH Banda Aceh), Swandu (Omparsial), Khairil (Lakaspia), Lukman Age (Aceh Institute), Hendra Budian (AJMI) dan beberapa wartawan dari media cetak dan elektronik..

Pada jumpa pers tersebut membahas masalah dan kondisi kekerasan yang terus berlanjut di Aceh dikarenakan lemahnya kinerja kepolisian dalam mengungkap kasus-kasus yang terjadi sebelumnya baik pelaku, pola maupun motif tindakan kekerasan. Wewenang pengelola keamanan antara TNI dan Polri memberi ruang bagi efisiensi penjagaan keamanan di Aceh. pihak TNI lebih terkesan mendominasi politik ruang-ruang keamanan menjelang pemilu 2009. Dalam salah satu media lokal di Aceh, Kolonel Inf. Eko Wiratmoko (Danrem 011 Lilawangsa) menyatakan bahwa TNI akan menyebar sekitar 5.000 pasukan hingga ke desa - desa untuk membantu polisi dalam mengamankan pemilu tahun 2009. Mekanisme perbantuan TNI kepada Polri harus melalui keputusan politik pusat karena melibatkan personil angkatan bersenjata (TNI).

Keberadaan parlok pada pemilu 2009 di Aceh harus dilihat sebagai pelajaran berharga dalam tradisi berdemokrasi di Indonesia bukan dianggap sebagai sebuah ancaman. Pengalaman pilkada tahun 2006 telah memperlihatkan kedewasaan berpolitik masyarakat Aceh sehingga tidak dibutuhkan pengamanan yang berlebihan. Akan tetapi untuk meningkatkan akuntabilitas proses pemilu maka diperlukan pemantau asing di Aceh.

Dari pembahasan di atas menyatakan sikap, sbb : pertama, kepada Kapolri untuk segera meningkatkan performance personelnya di Aceh. kepolisian harunsnya menjadi garda terdepan penegakan hukum.

Kedua, netralitas TNI dalam pemilu 2009 sering dinodai oleh pernyataan-pernyataan berbau politik oleh pejabat TNI. Hal ini jelas berada diluar koridor UU TNI dan UU pertahanan serta tidak sejalan dengan statemen Panglima TNI mengenai nettalitas TNI dalam pemilu 2009. Untuk itu kepada Panglima TNI dan Menteri Pertahanan agar segera mengevaluasi pasukan di Aceh.

Ketiga, kepada Gubernur NAD untuk segera melakukan respon cepat terhadap semakin buruknyaa kondisi keamanan di Aceh sesuai dengan UUPA pasal 204 (3) dan (4) bahwa dalam keadaan damai maka Pemerintah Aceh memegang kendali keamanan teritorial.

Keempat, kepada Pemerintah Provinsi NAD, parlok dan segenap masyarakat aceh untuk bahu membahu menjaga perdamaian di Aceh. kontestasi menjelang pemilu boleh saja namun menjaga perdamaian adalah kepentingan yang lebih besar bagi kemanusiaan.

Kelima, meminta Presiden RI untuk segera mengundang pemantau asing untuk terlibat dalam pemantauan pemilu di Aceh.

Perlukah Pemantau Asing ?

Yang mengherankan dari jumpa pers yang dilakukan kalangan NGO tersebut adalah mengapa mereka menuntut adanya pemantau asing di Aceh pada Pemilu 2009, dimana hal yang senada juga sering diungkapkan Gubernur, Wakil Gubernur NAD termasuk terakhir Jhon Penny (Ketua UE di Banda Aceh), padahal ketika pelaksanaan Pilkada 2006 yang lalu lancar tidaknya bukan karena kehadiran pemantau asing, melainkan karena kedewasaan berpolitik masyarakat yang semakin matang baik karena demokratisasi maupun matang karena belajar dari konflik yang berlarut-larut, dimana hal ini juga diakui oleh kalangan NGO tersebut.'

Sebenarnya kehadiran pemantau asing dalam sebuah momen demokrasi adalah wajar dan sah-sah saja, tapi untuk situasi kondisi Aceh kontemporer saat ini, maka untuk Pemilu 2009 tidak perlu ada pemantau asing dimanapun juga diwilayah Indonesia, sebab bagaimanapun kehadiran pemantau asing dalam Pemilu disuatu negara jelas memiliki agenda politik, walaupun Uni Eropa menyatakan akan memantau langsung bukan dengan cara membayar NGO tertentu untuk memantaunya, namun perlu diucapkan terima kasih bahwa Pemilu 2009 di Indonesia pada umumnya dan Aceh pada khususnya tidak perlu ada pemantau asing.

Hal ini disebabkan karena hasil pemantauan pemantau asing dalam Pilkada 2006 ternyata juga tidak valid, buktinya mereka melihat Pilkada 2006 berjalan dengan aman dan lancar, namun sejatinya banyak diwarnai intimidasi dan kecurangan politik lainnya, termasuk karena waktu itu rule of law yang tidak maksimal dilakukan, buktinya kasus pembakaran bus rombongan salah satu Cagub waktu itu yang dibakar di Bireuen, sampai saat ini masih adem ayem berada di "kotak pandora".

Penulis sendiri yakin walaupun pemantau asing tidak hadir secara fisik di Aceh, namun mereka tetap akan memantau Pemilu 2009 di Aceh dan Indonesia dengan berbagai cara baik melalui "networknya" yaitu kalangan NGO yang selama ini bekerjasama dengan mereka, (karena banyak kegiatan NGO yang dilakukan atas biaya atau sponsor NGO asing seperti salah satu NGO dari Jerman, Canada maupun negara lainnya  yang terjadi di Aceh Barat, Nagan Raya dll), melalui perwakilan mereka di Indonesia dan Aceh sampai melalui kajian/pantauan berita dan artikel di media massa baik cetak, elektronik maupun situs berita/web.

Bagaimanapun juga lancar tidaknya Pemilu 2009 di Aceh akan ditentukan oleh masyarakat Aceh, dengan sikap politik yang dewasa dari masyarakat Aceh, hilangnya intimidasi, teror, black campaign, kampanye door to door yang mencatat nama-nama penduduk di daerah pedalaman yang dipaksa memilih salah satu parlok tidak terjadi lagi, tentu Pemilu akan lancar karena sejatinya walaupun secara text book thingking sudah dapat dikatakan ada demokratisasi di Aceh, namun sejatinya belum ada demokratisasi di Aceh menurut takaran demokrasi yang sebenarnya. Untuk itu adalah wajar jika ada pengamanan Pemilu di Aceh lebih ekstra dari daerah lainnya, karena sebab itu serta sebab yang lainnya antara lain masih ada "ancaman terselubung di Aceh" masa depan.

*) Penulis adalah pemerhati masalah kekinian dan strategis Indonesia dan Aceh

Category: Dalam Negeri | Views: 1139 | Added by: newstribune
Hot Seleb

Hak Cipta NewsPortal © 2026
Open Directory Project at dmoz.org

ANTARA Foto   Asia Pulse   AsiaNet   IMQ   OANA